Jumat, 26 Juli 2019

Cerita Makna: Sejuta Asa Meraih Kampus Ganesha (Extended)



Memantaskan Diri Menggapai Mimpi 

Hanya ada satu pilihan. Nikmati dan jalani. Karena apa yang tidak membunuhmu. Menguatkanmu


Hari ini selepas pulang sekolah aku langsung bergegas menuju perpustakaan UGM. Aku lolos seleksi berkas BAT dan menuju tahap wawancara sekarang. Bingung sebenarnya apa yang harus dipersiapkan. Kuatkan mental saja, semoga aku bisa menjawab setiap pertanyaan sebaik mungkin. Aku tiba 30 menit kemudian di perpus UGM. Jarak sekolah dari UGM cukup jauh dengan kondisi jalan yang ramai saat jam pulang cukup menyita waktu. Tiba disana aku bergegas menuju tempat wawancara. Tidak lama menunggu giliranku diwawancara tiba. Mencoba menjawab semua pertanyaan sebaik mungkin dan selesai. Aku merasa wawancaraku baik-baik saja. Lawan bicaraku cukup ramah dan aku merasa jawabanku informatif dan cukup memberikan gambaran.

Kini aku hanya perlu berdoa dan berharap semoga aku dapat menjadi bagian dari peserta BAT kali ini. Sebuah kesempatan bagus untuk menunjang perjuanganku kali ini.

Beberapa bagian dari hidup kadang memang terasa tak adil. Tapi seorang pejuang bukan terlahir tanpa rintang. Maka untuk menjadi berbeda kau harus sekuat baja. Karena biasanya, mereka yang luarbiasa selalu punya cara berbeda menjawab masalahnya.

Aku sangat bersyukur dapat menjadi bagian dari BAT. Aku dinyatakan lolos dan bisa bergabung dalam grup belajar. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Bertanya pada kakak mahasiswa UGM sesuai dengan bidang keahliannya. Disini juga aku diberi bundle soal yang akan dibahas setiap pada setiap pertemuan.  

Mulai dari sini aku menyusun semangatku untuk belajar dan belajar mempersiapkan UTBK. Aku punya jadwal BAT. Dan aku sudah selesai dengan organisasi dan event sehingga punya waktu belajar. Ditambah aku punya grup belajar dengan teman-temanku yang juga punya mimpi besar. Buku yang kudapat dari kakak kelas mulai kutata untuk dilahap. Aku juga membeli beberapa buku penunjang lainnya.
***
Hari perjuanganku diisi oleh rutinitas belajar. Selepas pulang sekolah aku segera meluncur menuju perpus UGM untuk belajar Bersama kakak-kakak disana. Hingga magrib selesai kami menyudahi forum belajar kami yang biasa berisi sedikit review materi dan latihan soal. Karena dengan pembahasan soal itu sudah membantu kita dalam mereview materi. Aku biasa menunggu sembari membaca materi hingga isya diperpus dan pulang ke rumah setelahnya. Setelah istirahat dan makan aku ulang dan rapikan catatan semua materi yang kudapat hari itu. Aku mendapat jadwal selama sepekan sebanyak tiga kali. Jika sedang tidak ada BAT aku bergegas kerumah untuk latihan soal secara mandiri.

Setiap akhir pekan aku biasa menghabiskan waktuku di rumah atau perpus daerah untuk belajar bersama teman-temanku. Setiap dari kami memiliki bidang keahlian sendiri. Waktu kelas 10 dan 11 dahulu kita sama-sama mencoba ikut OSN dan hasilnya. Semua dari kami belum berhasil lolos ke tingkat nasional. Hanya sampai provinsi saja. Aku biologi dan temanku yang lain matematika, fisika, serta kimia. Banyak berdiskusi banyak soal membuat masing-masing kami paham. Bahwa kita masih harus benar-benar banyak belajar walaupun dimapel yang kita anggap mampu.

Saat berjuang adalah waktu yang harus aku nikmati. Dimasa dimana waktu sangat dihargai. Meski, sisi lainku tidak ingin terus dalam fase begini. Aku harus bersemangat dalam menjalani. Soal demi soal. Materi demi materi yang harus dikuasi, perlahan namun pasti. Aku pasti bisa mengerti. Aku hanya perlu sabar dan ikhlas dalam memantaskan diri. Untuk sebuah mimpi yang terus aku tanam dalam hati. Menjadi mahasiswa ITB nanti.

Mendekati masa ujian kelas tiga. Tryout dan latihan soal untuk ujian sekolah pun menanti. Ini berarti, semua pelajaran harus dikuasi betul. Waktu dalam kelas selalu berisi bahasan materi dan soal pelajaran. Pergantian mapel yang berbeda-beda dalam sehari, sungguh melelahkan. Fokus ku pada UTBK pun harus terkurangi demi nilai yang harus baik pada ijazah SMA. Belum lagi UN yang menyusul setelahnya. Kehidupanku benar-benar terasa padat oleh belajar. Waktu malam hari aku gunakan untuk pelajaran diluar UTBK dan semua materi UN. Aku hanya mempersiapkan UTBK melalui BAT dan belajar mandiriku bersama kelompok tiap weekend.

Sepekan menuju ujian sekolah aku benar-benar fokus pada ujian sekolah. Setelah sebelumnya rangkaian ujian praktek yang butuh banyak persiapan dan laporan praktikum yang nyaris membuatku melukapan UTBK kulalui. Selama masa ujian ini, aku harus menjaga kesehatan untuk bisa tetap melaksanakan segala kewajiban. Kulalui setiap tugas dengan sepenuh hati. Karena aku mengerti. Semua yang aku lakukan sekarang akan kembali padaku kemudian. Tak sedikit temanku yang down dan malas untuk menjalani ini. Berfikir semua ini tiada arti. Ber opini tentang pendidikan dan mengkritisi situasi. Aku bukannya tak lelah dan tak peduli. Tapi semua harus selesai bukan?

Naik turun itu pasti. Lelah dan ingin menyerah? Atau mengerjakan semua setengah-setengah? Aku juga berfikir demikian. Kita bukanlah mesin otomasi yang sedia bekerja. Saat Lelah, istirahatlah. Menepi itu bukan salah, asal jangan diam dan berhenti.

Setelah ujian sekolah selesai, aku bisa sedikit bersantai. Sembari menata rencana belajar kedepan dan mempersiapkan UNBK. Materi UN memang mencakup semua yang kita pelajari di sekolah. Meski soal-soalnya tak sesulit UTBK. Tetap saja artinya aku harus menguasai semua. Berbeda dengan UTBK yang bisa aku susun skala prioritasnya. Hingga waktunya tiba. Aku masih belum menguasai semua secara sempurna. Tak apa, toh aku sudah berusaha. Menjadi idealis bukan berarti tak bercela.

Selesai UN jam pelajaran sekolah pun juga selesai. Hanya ada kelas tutor bagi yang ingin belajar dengan guru. Tapi aku lebih memilih belajar bersama kelompok ku dan di BAT. Waktu-waktu setelah UN benar waktu yang mengujiku. Bagiku yang tidak ikut les. Aku bebas melakukan apapun, kapanpun. Seolah waktu menjadi dua mata pedang yang jika salah digunakan akan melukai diri. Ku ingat selalu akan mimpiku yang ingin kuliah di ITB. Aku bersyukur karena teman dalam kelompok ku bisa untuk saling menyemangati. Aku harus ambis disetiap hari-hari ini.

Aku belajar hampir sepanjang hari. Bangun dan mengerjakan soal atau review materi di rumah hingga siang. Siang hari aku masi mengerjakan soal dalam buku-buku yang ku punya. Saat sore aku bergegas untuk hadir BAT. Dan setelahnya aku menuju perpus daerah untuk belajar dan mengulang apa yang diajarkan dalam BAT tadi. Tak jarang kami disana hingga jam tutup perpus tiba. Sekitar jam 10 malam. 

Kalau tidak ada jadwal BAT aku biasa pergi ke perpus daerah dari pagi. Dalam sehari aku menargetkan untuk belajar sebanyak yang aku mampu. Aku mulai fokus belajar dirumah jam 8 pagi hingga adzan dhuhur. Kumatikan gawai yang bakal jadi pengganggu fokus. Laptop lebih baik untuk mencari materi yang kita butuhkan tanpa banyak medsos disana. Siang aku mengerjakan soal yang kupunya dan fokus pada satu pelajaran tiap harinya. Sore berangkat BAT dan malam bersama kelompok diperpus.

Aku merasa mampu untuk menggunakan waktu sebaik mungkin. Aku bisa fokus belajar dari jam 8 hingga jam 10 malam. Dengan istirahat diwaktu-waktu wajar. Selama tiga minggu selepas UN aku menjalani hidup begini. Aku belajar 12 jam sehari. Soal-soal yang terkadang luar biasa pembahasannya adalah makanan sehari-hari. Lelah sudah biasa. Berdebat jawaban siapa yang benar. Kita juga tak jarang menemukan soal tak berjawab. Intinya jangan pernah berhenti mengerjakan. Kalau otak sudah tidak bisa diajak perang. Jenuh dengan soal yang terlampau susah atau bosan. Aku istirahat dengan menonton video materi atau soal pembahasan. Hingga terkadang terlewat terlelap.

Seminggu sebelum jadwal tes yang aku ambil pada 4 mei. Aku mengubah belajarku dengan mengerjakan satu paket soal UTBK setiap harinya. Dan terpenting bagaimana aku bisa memahami pola dan jenis soal yang sering muncul dan cara mengerjakannya. Pagi aku mengerjakan soal-soal TPS. Meski terlihat mudah diperlukan latihan cukup agar bisa menjawab soal sulit yang akan memiliki bobot yang tinggi. Dan di TPS aku bisa memanen nilai untuk menutup TPA apabila aku banyak menemukan kesulitan disana. Penting juga karena isu yang beredar. Kampus akan melihat lebih pada TPS untuk melihat kemampuan dasar siswa.

Hari ujian tiba. Aku sudah hadir pagi sebelum waktu memasuki ruang ujian dibuka. Lain dari yang lain. Aku bergegas menuju masjid. Rasanya lebih menenangkan menunggu disini daripada di depan pintu masuk ruang ujian. Aku hanya berdoa dalam kesempatan terakhir sebelum ujian dimulai. Semoga ujian kali ini membawaku menuju Kampus Ganesha disana.

Pengumuman: SBMPTN
Recommend TryOut: Eduka

Bagikan

Jangan lewatkan

Cerita Makna: Sejuta Asa Meraih Kampus Ganesha (Extended)
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.