Kamis, 07 Mei 2020

Relung Kenang | Contoh Puisi Kenangan




/Menatap rintik sendu selalu lebih mudah ketimbang
mengucap rindu pada kamu yang teristimewa
gadis yang menuntunku dengan senyumnya,
senada sentuhan angin dibalik larik-larik malam/

/Lampu hias kota menjadi saksi bisu awal perjumpaan kita,
kita yang mengucap janji selepas senja sirna digulung mega.
Bahwa kamu, seorang pertama yang mengajariku menikmati petrikor
masih dengan seragam abu-abu kita yang kotor/  

/Aku tak pernah bermaksud sungguh untuk mengikat
kamu tak pernah berhenti berharap untuk terikat
hingga untuk setiap kesempatan yang kubiarkan terlewat
menyadarkan kau tentang aku tak lebih dari seorang pengkhianat/

/Dan kini, aku hanya mampu merapal sesal dan maaf
yang ku harap menuntun laramu menuju hirap/

/Dan kini, kamu terisak bersandar dibalik air yang mendesah
temani luka yang terselip diantara bait-bait basah/

/Saat dimana kata tak lagi bermakna
air mata adalah sebaik baik pembawa cerita,
tak pernah berdusta dalam setiap luka dan derita/

/Kini kamu nyaman bersama waktu.
Makhluk yang tak pernah gagal merubah kecewa menjadi bahagia
dengan apa dan siapa yang waktu bawa bersama detaknya/


/Pada akhirnya, aku tak lebih dari pesan daring yang menjejalkan notifikasi
yang dianggap tak lebih serupa media informasi
tanpa perlu jawaban pasti/

/Pada akhirnya, aku hanya terikat pada algoritma membisu
yang hidup dibawah bayangan rindu/

-Yogyakarta, 2020




Bagikan

Jangan lewatkan

Relung Kenang | Contoh Puisi Kenangan
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.