Selasa, 11 Agustus 2020

Merangkai Peluang Mahasiswa Pertanian | Opini Mahasiswa


Source: unsplash.com

Selayang Pandang Mahasiswa dan Pertanian

Mahasiswa pertanian kini dihadapkan dengan perkembangan zaman yang menggeser trend kehidupan. Seolah tak tahu hendak berbuat apa dengan keilmuannya. Padahal Indonesia sebagai negara agraris yang dianugrahi matahari sepanjang tahun. Pastinya menyimpan segudang potensi pertanian yang seharusnya dapat menjadi titik kemajuan bangsa.


Berbicara pertanian saat ini memang menjadi sektor yang dianggap sebelah mata oleh kalangan muda. Dengan semakin beragamnya jenis pekerjaan dan kemajuan teknologi. Membuat pertanian kian ‘terpinggirkan’ dimata mereka. Hal ini bisa dilihat dari masih minimnya tenaga kerja dan ahli yang berkutat di bidang pertanian. Akan tetapi jika kita melihat data, pertanian sebenarnya masih menjadi tumpuan bangsa dengan banyak peluang terpendam didalamnya.


Menilik data BPS tahun 2019, sektor pertanian masih menjadi satu dari tiga sektor utama penyumpang PDB terbesar. Dibayangi dengan tantangan pertumbuhan produksi yang masih tergolong rendah. Disebabkan oleh terbatasnya kemampuan petani dalam menerapkan sistem budidaya yang baik (Good Agricultural Practice), ketersediaan lahan yang semakin terbatas, dan kurangnya pembiayaan.


Berdasarkan Susenas 2018 didapatkan data petani guram yang mencapai mampir 16 juta jiwa. Hal ini menjadikan petani erat dengan kemiskinan sehingga menimbulkan stigma di mata lulusan muda. Padahal jika dipandang dari sudut ketenagakerjaan. BPS tahun 2019 mencatat sektor pertanian sebagai lapangan pekerjaan terbesar yang mampu menyerap sekitar 27% dari total angkatan kerja. Disamping itu, kita melihat bahwa 70% rumah tangga perdesaan masih mengandalkan pertanian sebagai sumber pendapatan.


Ada dua alasan mengapa peran sektor pertanian menjadi sangat penting dan akan terus berpeluang kedepannya. Pertama, adalah 87% persen industri kita masing bergantung pada bahan baku dari sektor pertanian. Hal ini bisa kita lihat saat produktivitas pertanian menurun, maka jumlah impor akan meningkat dengan komiditas utama adalah bahan baku untuk menggerakkan industri.


Kedua adalah Kebutuhan pangan yang tidak akan pernah sepi dari permintaan. Berdasarkan pernyataan Kementan 2019. Trend eskpor pertanian selalu meningkat dalam 5 tahun terakhir dengan didominasi hasil perkebunan dan hortikultura. Melihat semua peluang tersebut sudah semestinya lulusan pertanian mampu berdaya untuk menggarap sektor pertanian.


Disamping itu, Meningkatkan produktivitas sektor pertanian juga merupakan tujuan Kementan. Terlebih Indonesia telah berkomitmen dalam mewujudkan ketahanan pangan dunia melalui sistem pertanian berkelanjutan yang tertuang dalam poin SGDs (Sustainable Goals Development) tahun 2015 kemarin. Sehingga untuk mewujudkan hal tersebut perlu adanya peremajaan sektor pertanian kita untuk menggenjot produktivitas.


Siap Mengembangkan Peluang Pertanian

Mahasiswa pertanian tentu diharapkan menjadi awal solusi dari tantangan memaksimalkan peluang pertanian. Mahasiswa yang merupakan generasi muda juga secara khusus dibekali dengan kompetensi materi akan cenderung lebih siap dan terbuka terhadap kemajuan teknologi pertanian. Karena saat ini kita melihat masalah bahwa difusi inovasi dan implementasi teknologi masih sangat kurang dilapangan.


Jika ditelusuri lebih dalam, ada banyak tantangan dalam menggali peluang sektor pertanian. Meski secara umum kita dapat membaginya menjadi on farm dan off farm. Namun, hal utama yang perlu kita lakukan adalah menjembatani lulusan pertanian dengan peluang dan bidang pekerjaan pertanian yang pendapatannya tidak kalah dibanding sektor lainnya. Jika diibaratkan petani adalah manajer dari usahataninya. Maka diperlukan seorang manajer handal dalam mengelola usahatani menjadi semakin produktif.


Saat ini tenaga kerja bidang pertanian didominasi oleh golongan tua dengan umur diatas 45 tahun dan tingkat pendidikan yang relatif rendah. Dikuatkan data BPS 2018 yang menunjukkan bahwa hanya sekitar 0,57% petani yang mengenyam pendidikan diploma atau sarjana. Data yang menujukkan besarnya peluang pertanian yang masih belum tersentuh oleh generasi mudanya.


Kembali jika kita menganalogikan petani sebagai manajer usahataninya. Maka meremajakan SDM pertanian menjadi langkah awal untuk meningkatkan produktivitas. Lulusan muda diharapkan mulai merubah paradigma usahatani. Tenaga muda ini tentu akan lebih memadai untuk terus berkembang, belajar menerapkan inovasi dan teknologi on farm. Merespons dinamika lingkungan, dan menerapkan sistem budidaya yang baik.


Berbicara peluang on farm. Saat ini yang kita perlukan adalah mengembangkan sistem pertanian berbasis pada ekologi tropis negara kita. Dimana iklim tropis menjadikan pertanian kita dapat berproduksi sepanjang tahun. Dengan produk hasil pertanian yang beragam serta modal awal yang rendah. Untuk itu diperlukan upaya implementasi dari konsep pertanian terpadu (Integrated Farming System). Sistem pertanian terpadu (SPT) merupakan sistem produksi yang menggabungkan antara budidaya tumbuhan dan hewan.


Upaya ini menjadi penting dilakukan melihat bahwa permintaan akan produk pangan kini kian bervariasi. Dimulai dari bahan pokok, hortikultura seperti sayur dan buah. Hingga hasil ternak meliputi daging, susu, dan telur. Ditambah kendala sistem produksi kita yaitu keterbatasan lahan dan modal. Melalui penerapan SPT, lahan terbatas dapat dimaksimalkan untuk memproduksi ragam produk sekaligus.


Setelah daripada implementasi SPT adalah mengintegrasikannya dengan konsep zero waste. Dimana setiap input pada sistem dapat menjadi output yang menguntungkan. Sehingga produksi pertanian kita menjadi semakin efisien. Namun, tantangan dari upaya ini cukup banyak. Dimulai dengan kemauan untuk terus belajar, terbuka terhadap perkembangan teknologi dan inovasi, dan pengorganisasian usahatani yang kompleks. Seiring berjalannya waktu, SPT dengan konsep zero waste ini akan semakin menjanjikan dimana metode konvensional yang ada kini dirasa masih kurang efisien.


Selain daripada sistem pertaniannya. Bidang lain yang sangat berpeluang adalah faktor pendukung produksi pertanian. Menjadi botanis yang berfokus mengembangkan benih unggul misalnya. Dimana benih sangat memengaruhi keberhasilan tahap awal produksi. Juga pupuk penunjang pertumbuhan tanaman yang sangat membantu laju produktivitas. Atau mendalami masalah hama dan penyakit tanaman yang sering menghantui sistem produksi pertanian kita.


Selanjutnya peluang bidang off farm. Bidang yang paling memerlukan perhatian adalah penangan pascapanen. Rendahnya keterampilan pelaku usatatani dalam mengelola hasil panennya membuat banyak produk pertanian terbuang sia-sia. Ditambah karena memang karateristik dari produk pertanian yang mudah rusak setelah dipanen. Hal ini jelas menjadi kerugian bagi para pelaku usahatani.


Oleh karena itu, dibutuhkan adanya sentuhan teknologi dalam pengolahan pascapanen. Sebagai upaya menjaga kualitas dan kuantitas hasil panen agar sampai ke pihak konsumen dengan baik dan menjadi penghasilan. Maka dari itu, bidang teknologi pascapanen ini masih sangat terbuka peluangnya kedepan.


Selain itu tantangan lain adalah dibidang Agroindustri. Melihat bahwa sebagian besar produk pertanian ekspor kita masih berupa produk mentah kebun dan holtikulutra. Agroindustri dikembangkan dengan melihat sisi lain dari nilai jual produk pertanian kita. Misalnya penerapan teknologi penyulingan dan esktraksi untuk menghasilkan bioproduk seperti crude palm oil (CPO) dan Virgin Palm Oil (VCO), atau Essensial Oil yang banyak digunakan sebagai bahan baku campuran dalam berbagai bidang industri.


Pada akhirnya kita melihat bahwa masih sangat banyak peluang pertanian yang perlu dikembangkan agar mendatangkan manfaat. Melalui penerapan teknologi dan inovasi lulusan pertanian mengambil peran untuk mendorong produktivitas pertanian bersama dengan pihak yang telah lama berkecimpung didalamnya. Berlandaskan idealismenya, mahasiswa pertanian seharusnya mampu untuk mendefinisikan peran sebagai agent of change yang turut andil memajukan sektor pertanian bangsa.


Sehingga semakin banyak lulusan pertanian yang mempraktekan ilmunya pada sektor pertanian kita melalui penerapan teknologi dan inovasi. Akan semakin terbuka pula peluang sektor pertanian dimasa depan. Mewujudkan Indonesia yang tak hanya sekedar swasembada pangan. Namun, hingga dapat menjadi sumber pangan dunia.


Bagikan

Jangan lewatkan

Merangkai Peluang Mahasiswa Pertanian | Opini Mahasiswa
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Suka dengan artikel di atas? Tambahkan email Anda untuk berlangganan.