Mengenal TPB ITB [Semua yang Perlu Kamu Ketahui]

TPB adalah Tahap Persiapan Bersama yang artinya mahasiswa baru ITB pada tahun pertama kuliahnya akan dibekali dengan mata kuliah yang sama untuk satu angkatan masuk dengan beberapa mata kuliah pengantar sesuai dengan fakultasnya.

Pada postingan sebelumnya aku telah berbagai pengalaman rasanya satu semester pertama menjalani masa TPB. Semoga bermanfaat bagi kalian ya...

Tetapi jika kamu belum membacanya, aku sangat merekomendasikan kamu baca bagian tersebut dahulu sebelum melanjutkan ini.

Baca Dulu: satu semester pertama kuliah di ITB

Melewati masa TPB dan lulus tanpa mengulang mata kuliah apapun menjadi hal yang sangat aku syukuri. Karena apabila kita belum lulus pada salah satu mata kuliah TPB itu berat guys, akan berpengaruh terhadap akademik di jurusan selanjutnya.

Ada pengalaman yang aku syukuri, ada juga penyesalan yang mungkin.. seharusnya bisa aku antisipasi dengan lebih baik, dan nilai – nilai yang aku dapatkan setelah menjalani satu tahun TPB ku.

Semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat bagi siapapun kamu yang membaca.

Nilai Itu Penting, Tapi Bukan Segalanya...

Sudah seharusnya sebagai mahasiswa kita menomersatukan belajar sebagai kewajiban utama kita. Mendengarkan dosen dikelas, mengerjakan tugas dengan baik, berperan dalam tugas kelompok dan tidak ghosting. Serta mempersiapkan ujian dengan matang agar hasilnya maksimal.

Sistem pendidikan ITB menjadikan nilai ujian sebagai bobot kuantifikasi indeks mata kuliah. Menariknya, ujian TPB selalu penuh dengan soal - soal kejutan atau out of the box. Tujuannya baik, melatih daya nalar dan meningkatkan kemampuan problem solving mahasiswa.

Tentu tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan memecahkan masalah yang sulit, atau mudahnya untuk mendapatkan nilai A. Menariknya banyak temanku yang berusaha mati – matian untuk mendapatkan itu.

Disini, aku bukan mahasiswa yang pandai, bahkan mungkin dibawah rata – rata. Saat beberapa yang lain berjuang untuk mendapatkan indeks sempurna, aku juga berjuang. Setidaknya untuk bisa lulus baik, sampai titik dimana itu tidak memberatkan ku kedepan.

Mendengar berbagai cerita, sudut pandang, dan pengalaman orang lain. Aku meyakini bahwa belajar bukan hanya tentang apa yang ada dikelas, tetapi juga apa yang ada diluar kelas. Belajar dengan mengikuti organisasi, mengembangkan minat pada unit, dan berlatih memanajemen sesuatu pada kepanitiaan.

Bukan hanya itu, belajar mengatur uang yang diberikan orang tua, mengatur jadwal harian agar produktif juga merupakan belajar. Intinya selama kamu selalu memiliki semangat untuk berkembang, apapun itu dapat dimaknai sebagai bentuk pembelajaran.

Apa – apa yang kamu pelajari di kelas, hanya akan membawamu sampai ke pintu ruang wawancara kerja. Sisanya, apa – apa yang kamu dapatkan diluar kelas menjadi penentunya.

Intinya, nilai itu penting. Tetapi jangan sampai karena kamu terlalu mengejar nilai sempurna dalam kelas. Kamu mengabaikan hal lain diluar kelas yang penting juga untuk kamu pelajari dan kuasai.

Karena menurutku, ada banyak hal yang bisa aku pelajari selama TPB. Sisi negatifnya, nilai semester pertamaku rendah dan terlalu rendah sehingga memberatkan IPK sampai sekarang. Hanya 2 koma sekian.

Itu terjadi karena aku masih beradaptasi dengan sistem akademik di ITB. Bersamaan dengan semangat untuk mencoba banyak hal yang menarik dimataku.

Dari pengalaman buruk itu juga aku belajar sebuah nilai berharga pada poin nomor dua.

Tidak Semua Kesempatan adalah Baik untuk Kita Ambil

Menjadi mahasiswa adalah kesempatan yang tidak dimiliki setiap orang. Apalagi menjadi mahasiswa ITB yang diperebutkan banyak orang. Pikirku ketika masa – masa awal kuliah dan berkomitmen untuk tidak menyiakan setiap kesempatan yang ada.

Banyak hal baru aku temukan di ITB. Baik sesuatu yang pernah aku temui di SMA dan lebih diperdalam disini maupun yang sama sekali belum pernah aku temui sebelumnya. Ingin rasanya aku mengikuti beragam hal ini dan itu.

Dimulai dari Open House Unit yang saling memamerkan asyik dan serunya jika bergabung bersama unit mereka. Kegiatan ‘magang’ di keluarga mahasiswa (KM ITB) dan MWA WM, hingga berbagai kepanitiaan terpusat yang mempertemukan aku dengan teman fakultas lain.

Ada juga komunitas lain yang menarik untuk dicoba seperti mentoring pengembangan diri untuk maba, komunitas yang fokus untuk berkarya dan berkompetisi, hingga beragam sharing session yang menawarkan banyak insight dan benefit.

Istilahnya yang mungkin tepat untuk aku saat itu adalah FOMO (Fear of Missing Out), tertinggal jika aku tidak mengikuti banyak hal. Daftar ini dan itu, mencoba apapun yang bisa dicoba, aku jalani pekan pekan awalku dikampus.

Ternyata melelahkan, aku tidak bisa mengikuti semuanya.

Hadir kuliah, kelas ke kelas yang hanya meninggalkan ketidakpahaman yang semakin bertumpuk. Kemudian disibukkan oleh banyak hal dari sore hingga tak jarang sampai malam datang. Bahkan di waktu weekend pun ada saja kegiatannya.

Aku menyadari bahwa tidak semua yang aku ikuti ini memberikan nilai tambah yang berarti. Tidak semua kegiatan yang aku ikuti memberikan value yang lebih dibandingkan effort yang aku berikan.

Tidak semua kesempatan adalah baik untuk aku ambil.

Aku merenung dan berkontemplasi, memilih dan memilah mana yang aku pikir memberikan value dan kesempatan berkembang paling baik. Sisanya, perlahan aku tinggalkan dengan baik (pamit) maupun tidak baik (ghosting).

Satu hal menarik lainnya yang aku sadari adalah bahwa sebuah kesempatan akan menjadi lebih bernilai dan bermanfaat jika kita memiliki ‘sumber daya’ yang tepat untuk mengoptimalkannya.

Misalnya, untuk bisa mengikuti unit robotika, alangkah lebih baiknya kamu punya pengalaman dalam pemograman dan rangkaian elektronik. Serta memiliki laptop yang memadai untuk belajar dan praktik.

Pertanyaannya, bagaimana cara kita menentukan kesempatan yang baik dan tepat untuk kita?

Mungkin poin ketiga ini bisa memberikan sedikit panduan untuk kamu.

Tidak Harus Punya Rencana yang Matang, Tapi Belajarlah untuk Selalu Mengenal Diri Sendiri

Sewaktu TPB dulu, aku seringkali mendengar dan didorong untuk merumuskan akan kemana atau menjadi apa ketika kita lulus kelak. Sehingga selama kuliah nanti, empat tahun kedepan, kita tahu mau kemana dan menapaki jalan yang benar.

Tidak ada yang salah dari motivasi itu, benar bahwa semua itu harus kita pikirkan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa gagal merencanakan sama dengan merencanakan kegagalan.

Setelah lulus nanti kita akan menekuni dunia yang seperti apa?

Apakah menjadi seorang akademisi dengan terus melanjutkan pendidikan setinggi tingginya? Apakah dengan menjadi profesional dengan memperbanyak jam kerja dan pengalaman? Apakah menjadi seorang pengusaha dengan mempersiapkan segalanya sebaik mungkin? Atau apakah menjadi seorang aktivis dengan mengikuti banyak volunteer dan pengabdian?

Hampir sebagian besar maba termasuk aku tentu belum punya jawaban untuk itu. Dunia kampus baru juga kecemplung. Sudah diminta memikirkan setelah lulus kelak jadi apa.

Tetapi, hal menarik dari menyusun rencana adalah kita dapat berandai dan berimajinasi tentang apa yang kita inginkan dimasa depan. Menyusun setiap skenario hidup yang kita semogakan, walaupun belum sepenuhnya jelas akan seperti apa.

Singkatnya hidup adalah rangkaian pilihan, kita akan selalu memilih lingkungan seperti apa yang akan kita jadikan tempat tumbuh dan berkembang. Lantas, memaknai dan resapi apa yang kita dapat dari sana.

Renungi dan satukan kembali apa yang kita dapati menjadi sebuah kesimpulan. Apakah aku menikmati berkembang disana? Apakah akan aku lanjutkan, atau cukup sampai sini saja?

Inilah proses yang aku katakan sebagai upaya untuk selalu mengenal diri sendiri. Berkontemplasi dari hal yang kita lakukan. Karena setiap pilihan dapat menjadi alternatif jalan yang kita tidak tahu akan berujung seperti apa.

Terlalu ketat pada rencana yang kita susun dari kacamata sempit kita dimasa lalu, hanya akan menjadikan kesempatan lain didepan terlewat begitu saja. Tidak merencanakan sama sekali hanya akan menjadikan kita ragu mengambil kesempatan.

Jadi tidak masalah kalau sekarang kamu belum punya rencana yang matang seutuhnya. Tetapi cobalah untuk maksimal disetiap hal yang kamu ikuti dan maknai apa yang kamu dapatkan setelahnya.

Bagaimana kalau aku hanya berputar – putar dan gagal dalam menyusun rencana?

Tidak masalah, aku juga demikian. Gagal karena mencoba itu baik karena sebelumnya kamu telah menang dari rasa takut mencoba. Bagian selanjutnya adalah tentang perjuangan yang identik dengan kegagalan.

Perjuangkan Apa yang Kamu Inginkan, Kegagalan Sesungguhnya adalah Saat Berhenti Mencoba

Ada satu target yang pernah aku kejar sewaktu TPB dahulu, yaitu bisa tinggal di asrama dekat kampus agar memiliki banyak teman belajar dan memudahkan akses ke kampus untuk banyak kepentingan.

Berasal dari keluarga sederhana, ayahku tidak memiliki cukup dana untuk menyewakan indekos yang sekali pembayaran minimal untuk 6 bulan kedepan. Sehingga aku terpaksa tinggal dirumah kerabat yang jauh jaraknya dari kampus.

Faktor ini juga yang berpengaruh pada rendahnya IP semester pertamaku. Jadi aku berniat untuk tinggal dekat kampus agar bisa lebih baik dalam mengembangkan diri dan mendapatkan teman belajar untuk meningkatkan prestasi akademik.

Dari proses diskusi dan mencari, aku mendapatkan jalan untuk bisa mendapatkan uang dengan cara menjadi pengajar privat. Aku pernah menjadi finalis OSP dan nyaris terpilih ke nasional sewaktu SMA dulu. Sebuah legitimasi setidaknya aku punya kemampuan yang bisa dijual.

Lamaran pertama, belum berhasil. Kedua dan ketiga juga sama. Aku mulai mempertanyakan apakah masih ada jalan untuk mengupayakan mencari uang dan tinggal di asrama dekat kampus. Waktu itu aku hampir menyerah dan memilih menerima keadaan.

Syukur, lamaran keempat dan kelima menghantarkanku menjadi seorang pengajar privat. Rangkaian seleksi uji kompetensi dan wawancara aku selesaikan dengan baik. Aku beruntung memiliki seorang teman yang bersedia menalangi seluruh pembayaran awal.

Kemudian perlahan aku cicil hutangku padanya setiap bayaran mengajar diberikan. Baiknya Allah, setelah mendapat pekerjaan menjadi tutor privat, aku mendapatkan beasiswa voucher makan yang dapat ditukar di kantin – kantin kampus. Informasinya aku dapatkan dari teman sekamar.

Inti nilai dari pengalaman ini adalah kita tak pernah tahu usaha keberapa yang membawa kita pada keberhasilan. Doa mana yang Allah dengar dan kabulkan. Tugas kita hanyalah memperbanyak keduanya.

Seorang alumni pernah berkata kepadaku..

Aku tidak pernah menyesali ‘percobaan’ apapun sewaktu kuliah. Satu – satunya hal yang aku sesali kini dari sepanjang aku kuliah adalah sesuatu yang tidak pernah aku coba.

Kalau pada percobaan ketiga aku memilih bahwa rencanaku mencari uang dengan mengajar agar bisa tinggal dekat kampus itu gagal. Pastinya bagian terakhir ini tidak akan pernah ada dan aku tulis.

Tetapi batas usahaku ternyata masih dikuatkan untuk menjemput keberhasilan. Tentu tidak lepas dari peran orang lain.  Namun, pilihan untuk berhenti mencoba dan menerima kegagalan sebelumnya menjadi kegagalan sepenuhnya adalah pilihan kita.

Penutup

Pengalaman TPB-ku mungkin memang tidak semenarik mahasiswa yang lain. Tetapi aku bersyukur karena bisa melewatinya dengan tuntas tanpa kurang suatu apapun. Masa TPB-ku juga memang tidak se membanggakan mahasiswa lain. Tetapi aku bersyukur mendapatkan banyak nilai yang bisa aku ambil.

Kutulis ini juga dengan harapan agar siapapun kamu yang kelak atau tengah menjalani masa TPB di ITB, bisa menikmati setiap prosesnya dan mendapat nilai yang tak sekedar tertulis pada transkrip. Tetapi melekat lalu tumbuh di hati dan pikiran menjadi sebuah prinsip.

Mengenal TPB ITB [Semua yang Perlu Kamu Ketahui] Mengenal TPB ITB [Semua yang Perlu Kamu Ketahui] Reviewed by izzuddinHisyaam on Juni 12, 2022 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.